Beberapa hari yang lalu habis liat ftv yang ceritanya lumayan bagus. Ceritanya begini.
Sebut saja A dan B bersahabat. Mereka punya kenalan sebut saja C. Mereka teman sesekolah. A dan B sama-sama akrab dengan C. Ternyata, C jatuh cinta pada A, dan singkat cerita mereka jadian. Hukum alam dan sifat naluriah manusia, A lebih sering bersama C daripada menghabiskan waktu istirahat bareng B. Ya.. karena mereka telah pacaran.
Lama kelamaan B mulai terbiasa dengan situasinya yang "ditinggal pacaran" oleh sahabatnya. B mulai main dengan teman-temannya yang lain tanpa menghiraukan A yang sedang di mabuk cinta.
Sampai akhirnya A curhat ke B bahwa A dan C putus. Sebagai sahabat, B rela mendengarkan semua cerita A yang subjective. Dan sebagai sahabat yang baik pula, B memberikan nasehat-nasehat yang sekiranya membantu A agar cepat ceria kembali.
Inti ceritanya bukan disitu, diawal diceritakan kalau A dan B itu akrab dengan C. Sebagai teman, B tetep menjalin hubungan baik dengan C, tetap ngobrol, tegur sapa, bahkan bercandaan di twitter. Normal nggak ada yang lebay ataupun berkurang seperti sedia kala. Tapi ternyata, diam-diam A nggak suka dengan apa yang dilakukan B karena menurut dia B nggak menghargai dia yang barusan putus dengan C. B pun nggak terima.
Saya lupa kelanjutannya karena nggak terlalu memperhatikan tv saat bagian-bagian akhir.
Hmmm bisa diliat, jujur saya juga gak terima dengan sikap A. Menururt saya, urusan pacaran, entah itu ketika jadian, berantem, hingga putus, itu urusan berdua, atau urusan A dan C. Mereka berdua gak boleh bawa-bawa B dalam hubungan mereka. Sebaliknya, B juga nggak boleh ikut-ikut masuk dalam hubungan A dan C kecuali jika diajak. Hmmmm.
No comments:
Post a Comment