Hello! long tine no write here. I open this blog because I have a plan to change something here.. but.. let me write first.
If you open my social media account, www.facebook.com/linda.astari or @lindaastari, I updated my activities when I was in Bulgaria. What am I doing in Bulgaria? Haha maybe this is your first time you hear this country.
Yes, I joined AIESEC. winter internship. Its very interesting because there is no winter in Indonesia, that was my first time to touch the snow!!!
Simply, I teach kindegarten student about english.. with 2 of my friends..
Overall, that was an amazing experience, I will tell you deeply after this, so.. just wait..
A day, a month, a year
Sunday, November 16, 2014
Bulgaria
Wednesday, July 31, 2013
A dan C, lalu B
Beberapa hari yang lalu habis liat ftv yang ceritanya lumayan bagus. Ceritanya begini.
Sebut saja A dan B bersahabat. Mereka punya kenalan sebut saja C. Mereka teman sesekolah. A dan B sama-sama akrab dengan C. Ternyata, C jatuh cinta pada A, dan singkat cerita mereka jadian. Hukum alam dan sifat naluriah manusia, A lebih sering bersama C daripada menghabiskan waktu istirahat bareng B. Ya.. karena mereka telah pacaran.
Lama kelamaan B mulai terbiasa dengan situasinya yang "ditinggal pacaran" oleh sahabatnya. B mulai main dengan teman-temannya yang lain tanpa menghiraukan A yang sedang di mabuk cinta.
Sampai akhirnya A curhat ke B bahwa A dan C putus. Sebagai sahabat, B rela mendengarkan semua cerita A yang subjective. Dan sebagai sahabat yang baik pula, B memberikan nasehat-nasehat yang sekiranya membantu A agar cepat ceria kembali.
Inti ceritanya bukan disitu, diawal diceritakan kalau A dan B itu akrab dengan C. Sebagai teman, B tetep menjalin hubungan baik dengan C, tetap ngobrol, tegur sapa, bahkan bercandaan di twitter. Normal nggak ada yang lebay ataupun berkurang seperti sedia kala. Tapi ternyata, diam-diam A nggak suka dengan apa yang dilakukan B karena menurut dia B nggak menghargai dia yang barusan putus dengan C. B pun nggak terima.
Saya lupa kelanjutannya karena nggak terlalu memperhatikan tv saat bagian-bagian akhir.
Hmmm bisa diliat, jujur saya juga gak terima dengan sikap A. Menururt saya, urusan pacaran, entah itu ketika jadian, berantem, hingga putus, itu urusan berdua, atau urusan A dan C. Mereka berdua gak boleh bawa-bawa B dalam hubungan mereka. Sebaliknya, B juga nggak boleh ikut-ikut masuk dalam hubungan A dan C kecuali jika diajak. Hmmmm.
Sunday, July 28, 2013
My Opinion
Sebelumnya, saya nulis ini hanya bertujuan untuk berbagi opini. Kalian boleh aja setuju ataupun nggak setuju, bukan urusan saya.
Ketika saya SMP, saya menjadi sie kesehatan dikelas. Saya banyak berkesempatan mengikuti seminar kesehatan. Jantung koroner lah, hiv aids lah, dan masih banyak lagi. Salah satunya tentang bahaya merokok. Karenanya, saya menganggap bahwa rokok adalah sesuatu yang mematikan dan patut dihindari.
Seiring berjalannya waktu, saya mengenal lebih banyak orang, mengenal lebih banyak "dunia", dll. Semakin banyak perokok yang saya kenal. Dan karena lebih banyak teman-teman saya yang perokok, otomatis sebagai non-smokers kami harus mengalah dan tahan berada disekitar mereka.
Contohnya pada saat gathering komunitas saya. Kita duduk semeja sekitar 10 orang, dimana 7 dari kami adalah perokok. Otomatis saya dan 2 teman saya harus tahan berada di meja itu, duduk, dan menghabiskan waktu dengan ngobrol membahas sesuatu.
Awalnya saya risih. Ya gimana nggak risih, saya penderita asma dan diharuskan menghirup asap rokok yang katanya lebih bahaya. Tapi... mau gimana lagi.
Akhirnya pada suatu hari, salah satu teman saya berkata kepada saya setelah saya tanya alasan dia merokok, "Aku udah terlanjur Lin. Yasudahlah, hidup ini hidupku. Nggak papa orang-orang koar-koar bahaya rokok, toh kami semua tau konsekuensi kok." Oooh jadi begitu. Jadi useless dong kalau kita rempong sendiri di antara teman-teman kita yang smokers.
Yaudah, sejauh kita sebagai minoritas bisa jaga diri baik-baik, ya nggak masalah.
Tapi opini saya, sekarang saya memandang adalah normal cowok yang smokers. Tapi... sampai saat ini saya berfikiran nggak akan pernah mau punya teman cewek yang smoker. Karena kalau cewek, akan lebih mudah untuk meng-influence atau mempengaruhi. Bisa-bisa keikut deh... naudzubillahminzalik.
Saturday, July 27, 2013
Someone's Perception are Based on Their Experience
Suatu hari, tahun berapa saya lupa, pada saat itu sedang ada seminar di sekolah saya. Di seminar itu sang pembicara menjelaskan tentang psikologi remaja (saya nggak terlalu memperhatikan waktu itu). Ditengah-tengah presentasinya, sang pembicara menunjukkan gambar di slide nya. Cukup menarik sehingga saya dan beberapa teman saya yang nggak fokus mendengarkan pun jadi penasaran.
Gambar itu adalah gambar abstrak yang "memuat" banyak gambar-gambar kecil. Saya melihat gambar kelinci, tapi teman disebelah saya melihat gambar bunga, lain lagi teman saya melihat gambar pemandangan.
Sang pembicara berkata, "apa yang kita lihat, persepsi kita, itu berdasarkan pengalaman kita"
Hmmm yang akan saya bahas disini bukan masalah bagaimana persepsi itu berkerja atau psikologi yang seperti apa, karena saya nggak punya background psikologi sama sekali. Tapi kalau perkataan pembicara tadi diterapkan di kehidupan sehari-hari ternyata menarik dan ada juga.
Contoh kasusnya seperti ini; si A dan si B bersahabat. Suatu ketika, mereka bertemu dengan si C. Ternyata mereka semua saling mengenal. Setelah selesai bertegur sapa dengan si C dan pergi, A dan B berdebat tentang si C.
Si A beranggapan bahwa C adalah orang baik, karena dulu si C pernah membantu A ketika A berurusan dengan polisi. Tapi... berbeda dengan B yang menanggap si C adalah orang jahat, karena C pernah merebut pasangannya.
Nha, kalau kasus nya begitu, sebagai orang ke 3(atau 4) kita nggak bisa langsung tau C itu orang yang seperti apa. Karena kita dihadapkan dengan 2 persepsi sekaligus.
Sebagai orang lain, kita nggak bisa memaksa A untuk menganggap C orang jahat karena kelakuannya, begitu juta sebaliknya. Karena persepsi A dan B terbentuk dari apa yang mereka alami sendiri.
Friday, July 26, 2013
The Power Of SKSD
Hmmm.. kebanyakan anak seumuran saya atau lebih tua, pasti akrab dengan singkatan SKSD (Sok Kenal Sok Dekat). Tapi nggak tau juga ya, akhir-akhir ini saya jarang dengar orang pakai istilah itu di percakapan mereka.
Iya, yang dimaksud di SKSD itu adalah udah merasa kenal sama orang yang baru ketemu atau baru kenalan. Suka ndeketin, nimbrung, dll.
Saya anggota sebuah komunitas. Di komunitas saya itu mayoritas semua laki-laki. Bahkan bisa dibilang saya cewek sendiri, karena sampai detik ini saya nggak pernah lihat ada anggota baru cewek selain saya.
Saya mau sedikit berbagi cerita tenang apa yang telah saya alami dikomunitas saya, berhubungan dengan SKSD.
Jadi awal saya gabung ke komunitas itu memang banyak member yang sudah gabung sebelumnya. Saya gabung kurang lebih setahun setelah komunitas itu dibuat. Sekali duakali ngumpul dengan orang baru, dengan karakter yang berbeda-beda dan sebagai minoritas pula, masih butuh adaptasi dan kekuatan hati yang tinggi untung hanya sekedar duduk semeja dengan mereka. Ada yang mulai nyapa, ngajak ngobrol, sampai ada yang cuek samasekali.
Karena niat saya gabung itu ada tujuannya, saya rasa nggak bisa untuk hanya diam seperti kemarin-kemarin. Saya memberanikan diri untuk mulai menyapa, ngajak salam, dan menerapkan SKSD di kalangan mereka. Bisa dibilang, sok asik. Dan hasilnya.... positif. Saya jadi akrab sama mereka. Tentunya saya jadi tau bagaimana caranya bergaul sama mereka. Saya yang harus mengikuti mereka, bukan mereka yang harus ngajak saya.
The power of SKSD yang saya alami juga ada ketika saya pertama kali masuk kuliah. Dengan orang-orang baru yang tentunya kita belum kenal. Dengan "flow" yang berbeda dari teman-teman lama kita. Ya SKSD itulah kuncinya.
Tapi pesan saya, SKSD juga ada batasnya. Sampai kita temuin rasa nyaman kita, udah, kembali jadi kamu yang sebenarnya.
Thursday, July 25, 2013
Who's lucky???
Hey, let me share you something. But, honestly, my english is not good, so if you found a bad spelling or worse grammar, please let me know.. haha
So, I studied in International program UII jogja. We use english as a daily language in the learning process. The special one is I have a subject named Bridging Program (BP). Its a kind of subject that teach us how to make a good paragraph, good summary, in the beginning of the year BP taught me about university lifestyle, etc and mini research. Yeah, the main point that I want to tell you here is about my mini reserch project.
Mini research is a final project to passed BP. We are divided into groups and did the research. Its like "karya ilmiah remaja" or real research but we make it more simple. Firstly we have to make a proposal, then we do a field reasearch, then make a report, and the final is we have to present it infront of the class. There are 5 classes of BP. After we do a class presentation, our lecturer will select 2 groups each class to be a representatives in the presentation competition.
Hmmm my group is consist of 2 people, me and my friend. He's take different major with me, he's an accounting student. Our research is about nationalism of young generation. We talk about Indonesian heroes. Hmmm its not really interesting because it waste my time.
One day, when me and him discuss our field research, I have a statement that we must win the competition. To win the competition, first that we have to do is be the representatives of our class. So we do our best in the class presentation day, such as we use batik.
BP is a boring subject. All of my friends are blaming it because it gives us extra-ordinary assignments.
When I said to my bestfriend that my group have a willingness to win the competition, their reaction are the said my group is too exaggerate in this subject. This subject is only 2creditpoints but I feel excited in doing the research.
Alhamdulillah my group being a representatives of my class!!! Glad to hear the announcement from my lecturer. Then we prepare our best for the competition.
The day! Little bit nervous when I did the presentation. The judges are not my lecturer. Me and my friend did our best like in the class presentation. But... for your information, the judges are very cruel! One of their comment is they said, "Your references is very weak and you methodology is very poor!" Well, I can't do anything and I saw my friend just hear the other comments wisely. Proud to be his partner!!!
Sadly, the winner will be announced 2weeks later in the Freshmen Celebration event (I think I don't ned to explain you here what kind of event is that).
Yeaay finally today is the day for the freshmen celebration event. It means the winner of presentation competition will be announce! But, my partner is already leave Jogja for watch Liverpool match in Jakarta. Theeeeeen..... the winner of presentation competition is........ I heard my lecturer didn't call my name or my friend's name. She call other group's members name. Hmmm let me realize something. I am not the winner?! My group is fail?! Iam lose?! WTH!!!!!! My group, who have a high confidence to win, is not a winner.
My preception is, the group who win the competition don't have to win. Their preparation is... uhmmm.. okay i'm not going to write here. But that is my preception and I don't know the reality.
When I text my friend about our lose, He just... yea... I don't know what's his feeling, yea its up to him. I don't have any idea at that time. It feels like I want to scream loudly said "THAT SHOULD BE ME WHO WIN THE COMPETITION!!!" Haha but thats impossible.
Its like Indonesian proverb "diatas langit masih ada langit" there's a sky avove the sky. You will not be perfect, because there's someone who more perfect that you.
Musim Beramal
Di bulan ramadhan yang penuh berkah ini, sebagai muslim, saya menjalankan ibadah puasa. Tentu, selain ibadah puasa yang juga dijalankan seluruh umat muslim didunia, banyak hal-hal baik yang jika dilakukan, kita akan mendapatkan imbalan pahala lebih banyak dari bulan biasa.
Hmm.... beramal. Buanyaaak sekali muslim-muslim di Indonesia yang berlomba-lomba beramal di bulan suci ini. Katanya sih, karena pahalanya banyak.
Tiba-tiba muncul pertanyaan besar di benak saya setelah membaca salahsatu post di the-magic-of-dr-jonas.blogspot.com yang sekilas mengulas tentang banyak orang "mendadak religius" dengan sering beramal, sering membantu orang lain, bahkan parahnya jadi rajin solat dan mengaji dalam rangka bulan ramadhan. Pertanyaan saya adalah "kemana aja kalian selama ini?"
Bukannya mau sok suci dengan nulis hal-hal yang kebanyakan orang lakukan. Saya juga termasuk diantara mereka kok.
Kenyataannya seperti ini. Dalam 1 tahun ada 12 bulan, 1 bulannya adalah bulan ramadhan. Memang, bulan ramadhan adalah bulan dimana pahala dilipat gandakan, sehinggal orang berlomba-lomba mencari pahala. Nah, kasarannya, jika ada seseorang atau sekelompok melakukan charity ke panti asuhan, misalnya. Mereka mengadakan buka bersama atau sahur bersama, dengan embel-embel membantu sesama di bulan yang penuh berkah. Memang itu perbuatan mulia. Membantu orang-orang yang bernasib tidak lebih beruntung. Mereka dapat pahala, iya dapat pahala. Tapi, sadarkah kamu, bahwa anak-anak panti atau orang-orang yang kita bantu itu tidak hanya hidup di bulan ramadhan?
Mereka juga hidup di 11bulan yang lain. Kondisi mereka pun juga sama. Mereka juga tetap butuh makan di 11bulan lainnya. Mereka juga tetap butuh buku, pensil, tas, sarung, beras, mie instant, dan benda-benda lain yang kamu sumbangkan di bulan ramadhan.
Bisa jadi bulan ramadhan adalah bulan yang mereka nantikan, ya karena di bulan inilah orang-orang "melirik" panti-panti asuhan yang ada didaerah mereka. Sebenernya saya sendiri kurang tahu, di hari-hari biasa mereka yang kekurangan dapat bantuan darimana.
Hmm pesan saya sih, ya memang kita akan diberi imbalan oleh Allah karena telah membantu saudara kita. Bahkan Allah menjanjikan pahala yang dilipatgandakan di bulan ramadhan. Tapi ingat, harus ikhlas memberinya. Untuk apa kita menghabiskan harta kita untuk mereka kalau tujuan kita adalah dapat "timbal balik" dari mereka. Misalnya, "Kan doa anak yatim dikabulkan Allah, aku mau ngasih makan anak yatim buat doain aku cepet lulus ah." Menurut saya sih percuma.
2 kali membantu mereka di hari-hari biasa jauh lebih baik daripada tidak samasekali membantu mereka di hari biasa tapi 1 kali membantu mereka di bulan ramadhan lho...